Usia ku baru menginjak lima
belas tahun saat cinta membuka hatiku untuk pertama kali menusuk hidupku.
"A" adalah seorang adam yang mengalihkan pandangan
melalui pesona tampannya, kelembutan serta kebijaksanaan dalam hatinya. Dia telah
membawa ku masuk kedalam mimpi serta malam - malam layaknya bidadari surga.
Adhi-lah yang mengajarkan untuk
mengerti perbedaan layaknya seorang wanita yang mencintai lamunanya, menghargai
seperti seorang pengemis yang memakan
makanan sisa, serta memaafkan layaknya seorang sahabat yang
kehilangan kepercayaan terhadap sahabatnya. Dia adalah seorang lelaki yang
menyadarkan ku dalam keliaranku.
Setiap wanita tidak pernah
melupakan cinta dari seseorang pemuda yang menusuk jantung nya untuk pertama
kali. A mengubah kesepian ku menjadi kebahagiaan yang tiada tara, serasa wanita sempurna untuk dia dan suatu kebahagiaan
yang tidak dapat ditukar oleh segalanya. Hari demi hari, minggu ke minggu, dan
bulan ke bulan akhirnya berlalu. Aku terlalu asyik dalam bayangan serta lamunan sehingga fikiranku hanya tertuju padanya.
Saat itu, lima tahun akhirnya
berlalu dia tidak mempunyai apapun untuk mempertahankan. Impian dan harapan
semua menjadi sia-sia ketika dia putus asa layaknya seorang pengembara yang
menyerah dalam perjalanan karena hilangnya kepercayaan.
A yang bijaksana, sudah
menyerah. Selalu tersisa waktu untuk mengingatnya karena hatiku yang patah dan
hatiku akan ingin tetap bersamanya. Renjanaku, kenapa
seolah semua menjadi salah ku? Engkau yang telah membuat keputusan layaknya
sebuah gelas berisi anggur yang kau tumpahkan dan pecah. Air mata dan kesunyian
telah menyelimuti ku serta kebutaan hatiku semakin angkuh.
Akankah maaf mu lebih besar
dari salahku? Apakah salahku layaknya orang tua yang mengutuk anaknya? Dan adakah cara untuk menembus semua dosa ku
terhadap mu?. Kau memberikan kebebasan, saat itulah aku mulai buta. Seorang
pemuda lain masuk kedalam hidupku dan aku terbuai. Aku menghina mu dengan
menghancurkan sebuah komitmen seperti jantung yang ku tusuk dipelukanmu. Apakah
keremajaanku membutakanku dan membuatku merasakan kemanisan yang bersifat
sementara serta melupakan arti kesetiaan?
Ataukah semua itu yang telah membuka mataku agar melihat kebahagiaan
dari sisi lain?
Cinta adalah suatu kebebasan
dimana kenyataan alam dan hukum manusia tidak mampu menerapkannya. Engkau
berkata "Aku mencintaimu dengan sederhana dan menerima mu seperti seekor singa yang ku jinakkan. Aku mendukung mu dengan
memberikan kebebasan tapi jagalah hatiku, sebuah kebebasan selalu ada batasan.
Jaga mata mu jangan sampai membuatmu buta seperti burung yang terbang mencari
makan dan lupa terhadap sarang nya. Namun, jika liar mu mengangkuhkan mu. Aku
akan keluar dari sarang dan mencari sarang baru, agar kita seimbang untuk
saling menyakiti"
Dulu kau pernah lupa diri
ketika kau meninggalkan ku untuk pertama kali ke sebuah kota besar untuk
menjadi seorang pengembara. Kau mencari seseorang yang membuat mu merasa hebat
ketika semua wanita bisa kau dapatkan dengan mudah layaknya sebuah pohon kelapa
mempunyai batang yang bercabang lima dan memiliki banyak buah untuk
menghasilkan pohon luar biasa dengan
tumbuh didalam tanah yang kau kubur untuk menutupi semuanya.
Waktu itu datang, kita bertemu
ditempat yang terdapat kenangan - kenangan yang kita lalui bersama saat hitam
putih menyelimuti hubungan kita. Ketidaksengajaan
semuanya menjadi terungkap, aku hanya diam dan berkata dalam bayangan "kau
segalanya bagaikan sebuah bunga mawar merah yang tumbuh dihatiku lalu kau
menjadikan hitam tapi aku akan tetap bertahan walaupun amarah menguasaiku dan
aku memaklumi mu karena kau tersesat dalam perjalanan pengembaramu".
Saat kau ketahui tentang diriku
dan masa liar ku, kau terdiam dan aku bagaikan
seorang wanita yang menguburmu kedalam kuburan yang
hampa dan kegelapan datang dalam hatimu, seolah seketika semuanya berjalan penuh dengan kehampaan. Apakah aku seorang wanita
pendendam? Ataukah maafku hanya untuk merendam amarah mu? Aku mengatakannya
karena kau lah yang aku percaya, tapi kau buta dan menutupnya dengan dendam
yang menyelimuti hatimu. Aku berlari untuk dapat memahami layaknya seorang hawa
yang jatuh hati pada seorang adam dengan melakukan hal gila dan mengakibatkan terseret ke penjara didalam
bumi hanya seorang diri. Ketika malam tiba hanya kedinginan hati yang
menyelimuti untuk menunggu fajar tiba dan berharap kehangatan datang
menghampiri.
Renjanaku, kenapa kau mudah
melupakan ku layaknya sebuah permen karet yang kau kunyah dan kau buang saat
manisnya hilang atau
seperti buah kelapa yang kau minum airnya beserta buahnya tapi kau buang bagian
yang tak layak dimakan. Aku mendengar
kabar bahwa kau melanjutkan hidup mu begitu cepat dan kau menebarkan setiap
kebahagiaan saat bersama nya seperti seorang adam yang tergila-gila pada
seorang hawa dan lupa asalnya.
Tuhan tahu bahwa aku masih bernafas walaupun begitu
banyak darah yang kuhabiskan karenanya dan hari demi hari kulalui seperti seorang
wanita yang mengubur harapan nya dan melangkah dengan hati yang hampir mati namun tetap tersenyum dan menganggap semua baik - baik saja. Tapi aku mohon kepada mu, kunjungilah
aku sewaktu luangmu seperti seorang anak yang kesepian lalu ayahnya menemui
untuk berbagi kehangatan. Oh renjanaku, kuharap keremajaan serta kesalahan ini
dapat mendewasakan kita. Kau memberikan arti bahwa kepercayaan tidak mudah
dikembalikan seperti membalikkan telapak tangan. Lamunan ku berkata
"inilah cinta buta ku yang dibalas dengan ketidak adilan tapi inilah cinta tidak memiliki hukum apapun untuk menegakkan
nya".
Kekecewaanku
datang ketika melihat kebahagiaanmu dengannya, kau bukan orang yang seperti itu
renjanaku. Ketika kau bersamaku, kau lah yang mengajari arti sebuah hubungan
yang terikat tanpa seorang pun tahu. A berkata “seorang pemuda dapat berubah
ketika merasakan kebebasan dari sebuah keangkuhan seperti seekor burung jantan
yang dipenjara dalam sarangnya, apakah aku salah ketika kau berkata benar? Coba
fikirkan ketika kau bersamanya, apakah engkau mengingatku?”.
Disetiap
malam saat kau meninggalkan ku terasa seperti seekor burung yang tertikam panah
pemburu. Dalam gelap ku selalu datang kata – kata “Oh Tuhan Yang Maha Agung,
Engkaulah tempatku berbaring untuk menyembuhkan luka dihati dan fikiranku.
Tuntunlah aku dalam setiap langkahku, berikanlah darah yang hampir habis karena
Engkau tau apa yang selama ini aku perjuangkan. Oh Tuhan ku, kasihanilah aku
dan sambungkanlah hatiku yang telah hancur layaknya gelas kaca yang pecah”.
Seorang
perempuan yang dipandang layaknya barang dagangan, dibeli dan ditawarkan dari
rumah ke rumah. Manakala kecantikannya pudar dan hilang sama sekali, seperti menjadi sebuah rosokan yang
disimpan di sudut gelap rumahnya. Aku adalah salah satu wanita yang dianggap
oleh seorang adam seperti barang dagangan. Tapi setiap aku melangkah untuk
memiliki arti kesempurnaan terasa pelan dan menyakitkan.
“Lihatlah
betapa waktu telah mengubah kita! Lihatlah kau telah meninggalkan ku serta berbahagia
dengannya disaat hatiku patah dan terluka! Lihatlah ditempat ini kita memulai
sebuah ikatan cinta dan disini pula kau lihat betapa tersiksanya aku karena
kebutaan cintaku. Betapa indah hari itu dan betapa ngeri tempat ini” aku
berkata pada A.
Diotak
kecilku teringat saat aku memohon kepadamu untuk memaafkan ku dan menebus
kesalahanku. Kau memberikan satu kesempatan dan berkata “aku memamaafkan mu
tapi ingatlah ini untuk yang terakhir, aku kan mencoba mengulang kembali
seperti seekor singa yang diberi roti sebagai makanannya setiap hari, namun jika kau mengulanginya
kembali aku akan melepaskanmu membiarkanmu terbang jauh layaknya seekor singa
yang muak karena roti tersebut dan mencari daging segar diluar sarang”. Lalu
aku membalasnya “bersabarlah bagaikan seorang pedagang yang mendambakan menjadi
seorang raja, semua butuh waktu renjanaku.” A membalas perkataanku “Engkau memintaku
untuk bersabar, sementara engkau sendiri butuh kesabaran itu? Apakah orang yang
lapar akan memberikan rotinya ke orang lain yang juga merasakan lapar, sedang
dirinya amat membutuhkan?”.
Kurasakan
betapa sulitnya untuk mengingat dan menulis kenangan – kenangan saat itu dalam
bentuk kata – kata saat menyenangkan, penderitaan, kesengsaraan, kedukaan,
harapan, serta kebahagiaan. A-lah yang mengisi kekosongan ku selama bertahun
– tahun dan sekarang usia ku beranjak dua puluh satu tahun, dengan sisa kekuatanku
aku akan bangkit dari keterpurukan dan melihat keatas bahwa langit lebih luas
daripada bumi.